SAMPIT — Pelantikan tersebut digelar bersamaan dengan persiapan Festival Seni Qasidah (FSQ) 2026. Halikinnor menegaskan dewan hakim dan juri memegang peran penting dalam menentukan kualitas dan objektivitas pelaksanaan musabaqah.
"Pelantikan ini bukan hanya sebuah seremoni, tetapi merupakan bentuk kepercayaan dan tanggung jawab yang besar. Dewan hakim dan juri memiliki peran penting dalam menentukan kualitas dan objektivitas pelaksanaan MTQ," kata Halikinnor di Sampit, Kamis.
Halikinnor meminta seluruh perangkat yang dilantik melaksanakan tugas secara jujur, objektif, adil, profesional, independen, dan penuh tanggung jawab sesuai ketentuan serta pedoman yang telah ditetapkan.
Penilaian, menurut dia, tidak boleh dipengaruhi hubungan pribadi, asal daerah, kedekatan, maupun kepentingan lainnya. Setiap peserta harus dinilai secara proporsional berdasarkan kemampuan dan penampilan yang ditunjukkan dalam perlombaan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga integritas, kehormatan, dan marwah MTQ ke-57 Kabupaten Kotim. Keputusan yang dihasilkan harus dapat dipertanggungjawabkan sehingga peserta maupun masyarakat dapat menerima hasil musabaqah dengan baik.
"Kita berharap dewan hakim, dewan juri, dan panitera dapat bekerja maksimal, sehingga seluruh rangkaian MTQ ke-57 ini berjalan dengan baik dan menghasilkan peserta terbaik," ujarnya.
MTQ ke-57 tingkat Kabupaten Kotim tahun 2026 dilaksanakan di Kecamatan Mentaya Hulu, tepatnya di Kelurahan Kuala Kuayan. Halikinnor menyebut pelaksanaan di kecamatan tersebut merupakan bagian dari giliran tuan rumah yang telah ditentukan sejak jauh hari.
Selain mempertimbangkan pemerataan pelaksanaan kegiatan, pemilihan Mentaya Hulu juga dinilai memiliki kondisi lingkungan yang lebih mendukung dibandingkan wilayah perkotaan Sampit, yang saat ini terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Di sana kondisi asap tidak seperti di Sampit. Kita bersyukur di daerah utara tidak ada asap seperti di wilayah perkotaan," jelasnya.
Ia menyebut kondisi tersebut turut dipengaruhi karakteristik wilayah yang didominasi tanah mineral. Saat terjadi kebakaran, api lebih mudah ditangani sehingga tidak menyisakan asap berkepanjangan seperti yang terjadi di sejumlah wilayah lainnya.
Di sisi lain, Halikinnor menegaskan MTQ tidak semata-mata menjadi ajang mencari peserta terbaik dalam membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur'an. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana membumikan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan masyarakat.
"Melalui MTQ, kita berharap tumbuh generasi Qur'ani yang tidak hanya memiliki kemampuan dalam tilawah, tahfiz, tafsir, dan cabang lainnya, tetapi juga memiliki akhlak mulia, integritas, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap sesama," ucapnya.
Dia berharap MTQ ke-57 menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur'an, sekaligus memperkuat kehidupan keagamaan dan kerukunan di Kotim.
"Kami berharap kegiatan tersebut melahirkan qari, qariah, hafiz, hafizah, dan generasi Qur'ani terbaik yang mampu membawa nama Kotim pada MTQ tingkat provinsi hingga tingkat nasional," demikian Halikinnor.