Rupiah Melemah ke Rp 17.941, Dolar Singapura Nyaris Sentuh Rp 14.000

Penulis: Qodri Anwar  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 14:23:01 WIB
Nilai tukar rupiah terdepresiasi ke Rp 17.941 per dolar AS pada perdagangan Senin (5/10/2026).

KALIMANTAN TENGAH — Nilai tukar rupiah terdepresiasi ke level Rp 17.941 per dolar AS pada perdagangan Senin (5/10/2026), melemah 59 poin atau 0,33% dibandingkan posisi sebelumnya. Dolar Singapura juga terus menguat dan berada di Rp 13.997, hanya berselisih tiga poin dari ambang Rp 14.000. Pelemahan ini menambah tekanan year to date yang sudah mencapai 7,74% menurut catatan Bank Indonesia.

Bank Indonesia mencatat depresiasi rupiah sepanjang 2026 telah mencapai 7,74% secara year to date. Angka itu menempatkan rupiah di antara mata uang Asia yang paling tertekan, meski BI menilai pergerakannya masih sejalan dengan mata uang negara-negara tetangga.

Data Bloomberg menunjukkan dolar AS diperdagangkan di Rp 17.941, menguat 59 poin dari posisi pembukaan. Sementara dolar Singapura menguat 6,72 poin atau 0,05% ke Rp 13.997, mendekati level psikologis Rp 14.000 yang belum pernah tersentuh sebelumnya.

Dolar Singapura Naik Konsisten Sepanjang 2026

Pergerakan dolar Singapura terhadap rupiah menunjukkan tren yang konsisten sepanjang tahun. Pada awal Januari 2026, mata uang Negeri Singa masih diperdagangkan di kisaran Rp 12.900. Nilainya terus merangkak naik hingga sempat menembus Rp 14.000 pada Juni, Juli, Agustus, dan September.

Kenaikan tersebut mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap rupiah, bukan hanya terhadap dolar AS. Investor yang memegang aset dalam denominasi rupiah menghadapi penurunan daya beli valas yang signifikan dalam sembilan bulan terakhir.

Dua Pemicu Utama di Balik Pelemahan Rupiah

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan pergerakan nilai tukar dipengaruhi faktor global dan domestik, termasuk sentimen dan kebutuhan.

Dua faktor global yang disebut Erwin menjadi pemicu utama: keputusan Amerika Serikat menaikkan suku bunga, serta konflik di Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi. Keduanya menekan mata uang negara berkembang secara bersamaan.

Pelaku pasar mencermati kondisi fiskal AS yang berada di ambang defisit. Untuk menutup kebutuhan pembiayaan, pemerintah AS akan menerbitkan surat utang lebih banyak dengan suku bunga lebih tinggi. Kondisi ini mendorong indeks dolar AS (DXY) melampaui level 101.

"Ketika DXY, indeks dollar menguat, kira-kira mata uang lain? Melemah," ujar Erwin dalam Taklimat Media di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Tekanan Berlanjut hingga Akhir Tahun

Posisi DXY di atas 101 menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat. Selama Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, aliran modal cenderung bertahan di aset dolar AS.

Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam valas, pelemahan rupiah menambah beban biaya. Importir bahan baku dan perusahaan dengan utang dolar AS menjadi pihak paling terdampak. Sebaliknya, eksportir komoditas berpeluang menikmati keuntungan dari selisih kurs.

Investor di pasar obligasi juga perlu mencermati dampak lanjutan. Imbal hasil surat utang negara cenderung naik ketika rupiah tertekan, seiring ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga BI untuk menahan pelemahan lebih dalam.

BI menyatakan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun ruang intervensi terbatas selama faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top