Pekerja Lab Siberia Meninggal, Dugaan Pes Paru Picu Pemantauan 200 Kontak

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:50:31 WIB
Teknisi laboratorium Irkutsk Anti-Plague Research Institute, Darya Shipilova, meninggal setelah dirawat dengan pneumonia berat.

KALIMANTAN TENGAH — Teknisi laboratorium Irkutsk Anti-Plague Research Institute berusia 28 tahun, Darya Shipilova, meninggal pada 2 Oktober 2026 setelah dirawat dengan pneumonia berat sejak 29 September 2026. Sekitar 200 orang yang pernah berkontak dengannya ditempatkan dalam pemantauan medis, sementara otoritas Rusia belum mengonfirmasi penyebab kematian. Dugaan keterkaitan dengan pes paru (pneumonic plague) mencuat karena lokasi kerja korban di lembaga penelitian penyakit pes.

Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan korban dalam sampel yang diperiksa. Meski begitu, sejumlah media lokal melaporkan Shipilova kemungkinan terpapar bakteri penyebab pes setelah sebuah tabung reaksi pecah di laboratorium. Informasi tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas Rusia.

Kematian teknisi di fasilitas penelitian penyakit pes memicu kekhawatiran lebih luas karena lokasi kerjanya memang menangani patogen berbahaya. Sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah tersebut dilaporkan menerapkan langkah karantina sebagai tindakan pencegahan.

Kronologi Kasus di Irkutsk

Shipilova dirawat di rumah sakit pada 29 September 2026 dengan gejala pneumonia berat. Ia meninggal tiga hari kemudian, 2 Oktober 2026. Otoritas Rusia menyebut pneumonia sebagai penyebab kematian, namun penyebab dasar penyakitnya belum diketahui secara pasti.

Laporan media lokal menyebut kemungkinan paparan bakteri pes akibat tabung reaksi yang pecah. Rospotrebnadzor membantah temuan tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan sampel. Hingga kini, tidak ada satu pun dari sekitar 200 orang yang dipantau menunjukkan gejala penyakit.

Apa Itu Pes Paru dan Mengapa Berbeda dari Pes Biasa

Pes disebabkan bakteri Yersinia pestis, yang secara alami ditemukan pada mamalia kecil dan kutu yang menginfeksinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membagi pes menjadi tiga bentuk utama: pes bubonik, pes septikemia, dan pes paru.

Pes bubonik adalah bentuk paling umum. Bakteri masuk melalui gigitan kutu terinfeksi dan menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening. Pes paru menyerang paru-paru dan disebut WHO sebagai bentuk paling ganas.

Masa inkubasi pes paru bisa sangat singkat, terkadang kurang dari 24 jam. Perbedaan pentingnya terletak pada cara penularan. Pes bubonik menyebar lewat gigitan kutu, sedangkan pes paru dapat menular antarmanusia melalui droplet atau partikel pernapasan, terutama pada kontak dekat.

Sifat menular inilah yang membuat dugaan kasus di Siberia mendapat perhatian besar. Jika seseorang benar-benar terinfeksi pes paru, pelacakan dan pemantauan kontak dekat harus dilakukan secepat mungkin.

Penilaian Pakar: Bukan COVID-19 Baru

Pakar mikrobiologi Dr Simon Clarke dari University of Reading mengingatkan agar kasus ini tidak langsung disamakan dengan pandemi COVID-19.

"Laporan dari Rusia mau tidak mau memunculkan perbandingan dengan COVID-19, tetapi penting diingat bahwa pes paru adalah penyakit yang sangat berbeda. Penyakit ini disebabkan bakteri Yersinia pestis, yang terkenal sebagai penyebab Black Death dan hingga kini masih ditemukan terutama pada hewan di sejumlah wilayah Asia, Afrika, dan Amerika," ujarnya.

Clarke menjelaskan pes paru memang sangat serius karena infeksi telah mencapai paru-paru dan dapat menular melalui partikel pernapasan. Namun, berbeda dari banyak penyakit virus pernapasan, pes disebabkan bakteri sehingga dapat diobati dengan antibiotik jika diketahui dengan cepat.

Ia juga mengingatkan laporan tentang tabung reaksi yang pecah belum cukup untuk menyimpulkan telah terjadi infeksi akibat kecelakaan laboratorium. Laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi, menurutnya, memiliki berbagai lapisan perlindungan, prosedur ketat, kabinet keselamatan, sistem aliran udara, dan pekerja terlatih.

"Sebuah tabung yang pecah tidak secara otomatis menyebabkan paparan atau infeksi," sebutnya.

Status Risiko Saat Ini

WHO menilai risiko kesehatan masyarakat bagi populasi umum masih rendah berdasarkan informasi yang tersedia. Penilaian tersebut dapat berubah jika ditemukan informasi baru.

Rusia masih menyelidiki apakah pes paru merupakan penyebab kematian korban. Hingga informasi lebih lengkap tersedia, sulit menentukan apakah kasus tersebut merupakan infeksi yang terjadi saat bekerja atau penyebab lain.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top