NEW YORK CITY — Freeman, yang lebih dari tiga dekade terlibat dalam kebijakan pembangunan ekonomi di Afrika, menyampaikan penilaian itu di tengah kondisi global yang tidak menggembirakan. Sekitar 800 juta jiwa hidup dalam kemiskinan ekstrem di seluruh dunia. Di Afrika saja, sekitar 440 juta orang atau sedikit di bawah sepertiga total populasi benua itu berada dalam kemiskinan ekstrem, dan angkanya terus meningkat.
Data terbaru PBB memperkuat gambaran tersebut. Hanya 36 persen target SDG dengan ketersediaan data tren yang berada di jalur tepat atau mencatat kemajuan moderat. Sebanyak 15 persen lainnya justru mengalami kemunduran.
Freeman menilai keberhasilan ekonomi Tiongkok selama dua generasi terakhir memberikan contoh berharga bagi negara lain. Menurut dia, Tiongkok merombak total perekonomiannya, menghapus kemiskinan ekstrem di perdesaan, dan memimpin dunia dalam pertumbuhan ekonomi fisik berbasis infrastruktur.
"Namun, kabar baiknya adalah Tiongkok, dalam kurun waktu dua generasi, telah merombak total perekonomiannya, menghapus kemiskinan ekstrem di perdesaan, dan memimpin dunia dalam pertumbuhan ekonomi fisik berbasis infrastruktur. Tiongkok membuktikan bahwa hal tersebut dapat diwujudkan," ujar Freeman.
Ia menambahkan komitmen teguh Tiongkok terhadap pembangunan negaranya dan kemahiran dalam tata kelola ekonomi yang efektif menjadi bukti nyata bagi dunia. Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB 2030 diadopsi pada 2015 dengan 17 SDG sebagai pilarnya.
Freeman menyoroti Inisiatif Pembangunan Global yang diusulkan Tiongkok pada September 2021. Menurut dia, inisiatif itu menjabarkan konsep esensial pembangunan yang paling penting untuk dipahami semua negara. BRI dan pertumbuhan BRICS dinilainya memberikan masukan krusial serta kontribusi nyata di lapangan untuk mewujudkan SDG.
Peran utama Tiongkok di Global South dinilai sangat berharga dalam mendorong kemajuan ekonomi dunia. "Kita harus mengakui bahwa masa depan planet ini bergantung pada pembangunan Global South," kata Freeman.
Di Afrika, BRI menjadi kontributor utama pembangunan proyek infrastruktur fisik. Sektor yang paling terbantu meliputi pembangkit listrik, jalur kereta, pelabuhan, dan bandar udara. Freeman menilai dukungan infrastruktur semacam itu enggan ditawarkan oleh Barat.
Freeman menyerukan penciptaan paradigma baru yang didedikasikan untuk mewujudkan kemajuan ekonomi di setiap negara. Sebagai bagian dari upaya tersebut, ia mengusulkan pembentukan lembaga kredit internasional baru.
Lembaga itu diharapkan menyalurkan kredit jangka panjang berbunga rendah yang memadai untuk investasi di bidang infrastruktur. Usulan tersebut muncul dari penilaiannya bahwa pembangunan Global South akan menentukan masa depan ekonomi dunia.