Pencarian

Separuh Pasokan Kilang ASEAN dari Timur Tengah, Krisis Energi Mengintai

Selasa, 06 Oktober 2026 • 09:26:31 WIB
Separuh Pasokan Kilang ASEAN dari Timur Tengah, Krisis Energi Mengintai
Para menteri energi ASEAN menghadiri pertemuan di Manila untuk membahas ketahanan pasokan bahan bakar regional.

KALIMANTAN TENGAH — Ketergantungan ASEAN pada minyak mentah Timur Tengah menembus lebih dari separuh kebutuhan kilang di kawasan, memicu kekhawatiran krisis energi berkepanjangan saat konflik di kawasan itu belum mereda. Para menteri energi ASEAN berkumpul di Manila pekan ini untuk membahas penguatan ketahanan pasokan bahan bakar regional. Pusat Energi ASEAN memperingatkan gangguan pasokan dapat menempatkan hampir 28 persen konsumsi akhir minyak ASEAN dalam risiko.

Paragraf pembuka: Wakil Menteri Energi Filipina Felix Fuentebella menegaskan keamanan energi kini bergeser dari sekadar isu teknis menjadi prioritas utama para menteri dan pemimpin ASEAN. Pernyataan itu disampaikan di tengah pertemuan para menteri energi ASEAN di Manila, Filipina, yang diperkirakan membahas langkah konkret memperkuat pasokan bahan bakar regional.

Ketergantungan yang Mengancam Pasokan Kilang

Lebih dari separuh kebutuhan kilang di Asia Tenggara dipasok minyak mentah dari Timur Tengah. Angka itu menempatkan kawasan pada posisi rentan setiap kali ketegangan di kawasan penghasil minyak meningkat.

Pusat Energi ASEAN menghitung gangguan serius terhadap pasokan dari Timur Tengah bisa menempatkan volume minyak setara hampir 28 persen konsumsi akhir minyak ASEAN dalam risiko. Itu bukan angka kecil bagi negara-negara yang belum memiliki cadangan penyangga memadai.

Fuentebella menyebut krisis yang berlangsung saat ini justru mempertegas urgensi ketahanan energi. "Yang dibawa oleh krisis ini adalah fokus yang lebih tajam pada ketahanan," kata dia, dikutip dari Reuters.

APSA dan Janji Respons Darurat Terkoordinasi

Salah satu instrumen yang dibahas dalam pertemuan Manila adalah Kerangka Perjanjian Keamanan Minyak ASEAN (ASEAN Petroleum Security Agreement/APSA). Kerangka ini dirancang memungkinkan negara anggota merespons gangguan pasokan secara terkoordinasi, termasuk lewat mekanisme darurat bersama.

Namun penerapan APSA belum mulus. Keterbatasan kapasitas penyimpanan dan persediaan energi di banyak negara anggota menjadi hambatan utama. Tanpa cadangan yang cukup, mekanisme respons darurat sulit dijalankan saat krisis benar-benar terjadi.

Peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute Christopher Len menilai cadangan energi bukan solusi jangka panjang. "Ini lebih tentang mempersiapkan krisis berikutnya. Cadangan adalah penyangga, bukan strategi," kata Len dalam webinar yang digelar Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Jalan Panjang Menuju Ketahanan Energi

Pertemuan Manila menjadi ujian bagi komitmen ASEAN menerjemahkan pernyataan ketahanan energi menjadi kebijakan nyata. Selama bertahun-tahun, kawasan memang dikenal bergantung pada impor minyak mentah, sementara investasi kilang dan infrastruktur penyimpanan berjalan lambat.

Bagi negara anggota seperti Indonesia, Filipina, dan Thailand, gangguan pasokan dari Timur Tengah berdampak langsung pada harga bahan bakar domestik dan anggaran subsidi energi. Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan akan memperbesar tekanan fiskal masing-masing negara.

Tanpa percepatan pembangunan kapasitas penyimpanan dan diversifikasi sumber pasokan, ketahanan energi ASEAN berisiko tetap menjadi wacana di atas kertas. Pertemuan pekan ini akan menunjukkan seberapa jauh negara anggota bersedia berbagi beban demi keamanan pasokan bersama.

Follow www.kaltenginfo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks