KALIMANTAN TENGAH — Anggota Steering Committee Piala Presiden, Arya Sinulingga, memastikan kebijakan ini bukan keputusan sepihak. Kesepakatan tersebut lahir dari rapat koordinasi yang melibatkan panitia penyelaksana, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah setempat.
"Hasil koordinasi dan pertemuan dengan berbagai pihak eksternal maupun dengan panitia, dengan kesepakatan bersama bahwa penyelenggaraan tanpa dihadiri penonton dan suporter," ujar Arya dalam keterangan resminya.
Surat Rekomendasi Mabes Polri Jadi Acuan Utama
Rekomendasi awal yang disusun panitia kemudian diteruskan ke Mabes Polri. Hasilnya, aparat pusat justru mempertegas keputusan tersebut. "Mabes Polri mempertegas bahwa memang hasil koordinasi kami itu laga berlangsung tanpa penonton dan suporter," tambah Arya.
Dalam surat kepolisian yang dimaksud, terdapat poin 2E yang secara eksplisit merekomendasikan agar babak semifinal dan final berlangsung tertutup. "Di situ ada poin 2E bahwa hasil koordinasi secara internal dan eksternal dengan panitia penyelenggara memutuskan untuk merekomendasikan kegiatan babak semifinal dan final tanpa dihadiri penonton dan suporter," jelasnya.
Pengamanan Berlapis: Polri, TNI, hingga Pecalang Dikerahkan
Meski tribun stadion kosong, pengamanan justru diperketat hingga radius luar arena. Arya merinci total kekuatan mencapai 1.284 personel gabungan yang disiagakan di dalam dan sekitar stadion.
- 1.042 personel Polri — pengawal utama jalannya pertandingan
- 48 personel TNI — memperkuat perimeter keamanan
- 42 personel Pemda — membantu koordinasi lapangan
- 152 petugas keamanan adat Bali — antisipasi potensi gesekan di area publik
"Jadi totalnya ada 1.284 personel untuk menjaga keamanan baik di stadion maupun di sekitarnya," kata Arya. Penjagaan ekstra ini ditujukan untuk mengantisipasi pergerakan massa yang nekat datang ke Gianyar meski laga dinyatakan tertutup.
Imbauan Tegas untuk Bobotoh dan Bonek
Penyelenggara meminta kedua kubu pendukung untuk tidak memaksakan diri hadir ke Pulau Dewata. Pertandingan tetap bisa disaksikan melalui siaran langsung di layar kaca.
Keputusan ini diambil dengan pertimbangan risiko tinggi yang melekat pada laga bertajuk "El Clasico Indonesia" tersebut. Panitia berharap kebijakan ini dipahami sebagai langkah preventif demi kelancaran dan keamanan bersama, bukan pembatasan hak suporter.